"Ilahi, kasihanilah hambaMu yang lemah ini. Engkau Maha Tahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cintaMu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tidak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarikan wajah dan suaranya, ya Ilahi, berikanlah padaku cawan kesejukan untuk meletakan embun-embun cinta yang menitis-nitis dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau redhai. Aku serahkan hidup matiku untukMu." Isak Zahid merayu kepada Tuhan yang Pencipta hati, cinta dan segala keindahan semesta.
Zahid terus meratap hiba. Hatinya yang dipenuhi gelora terus dipaksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin dia meratap embun-embun cinta itu semakin deras air mata mengalir. Rasa cinta dan rindunya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatiny. Dalam puncak munajatnya.....
ketahui kisah seterusnya di dalam novel "Di Atas Sajadah Cinta" oleh Habiburrahman El Sirazy.
-18-




0 comments:
Post a Comment